Tuesday, March 1, 2016

Menyambut Gerhana Matahari dalam Islam (harus apa?)

Menyambut Gerhana Matahari dalam Islam


لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


Gerhana matahari didalam islam adalah suatu fenomena yang mempunyai arti tersendiri, tidak hanya kejadian alam ataupun hanyalah sebatas fenomena alam. Di masa Nabi Muhammad Sallalahu Alaihi Wassalam pernah terjadi gerhana matahari. Mari kita cari tahu apa makna dari gerhana matahari itu. Matahari didalam Al-Quran terdapat beberapa ayat dalam beberapa surah. Dan terdapat juga beberapa hadits yang dapat menjadi rujukan kita.



Surat Al-An'ām ayat 96 :
فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.

Surat Ibrāhim ayat 33 :
وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan malam dan siang bagimu.

Surat Fuṣṣilat ayat 37 :
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.

Dari beberapa ayat diatas maka dapat kita lihat bahwa :
1. Allah telah menundukkan matahari untuk manusia (agar tidak membahayakan umat manusia)
2. Matahari akan terbit dan terbenam dan dapat manusia gunakan untuk perhitungan (astronomi)
3. Matahari adalah salah satu tanda kebesaran Allah, dimana setiap hari umat manusia akan selalu melihat matahari (agar manusia tidak lupa akan tanda kebesaran Allah)
4. Dilarangnya menyembah matahari, tetapi kita diwajibkan menyembah pencipta matahari yaitu Allah itupun tanpa paksaan dari Allah (lihat Surat Fuṣṣilat ayat 37 diatas).

Berdasarkan beberapa ayat diatas maka matahari adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan tujuan yang pasti. Dalam Al-Quran sendiri tidak ada ayat atau surat yang langsung membahas tentang tujuan dan maksud dari terjadinya gerhana matahari. Dan didalam hadits ada contoh langsung akan fenomena gerhana matahari di masa Nabi Muhammad SAW.


  • Shalat Sunnah pada Waktu Terjadi Gerhana Matahari 547. Abu Bakrah berkata, "Kami berada di sisi Rasulullah lalu terjadi gerhana matahari. Maka, Nabi berdiri dengan mengenakan selendang beliau (dalam satu riwayat: pakaian beliau sambil tergesa-gesa 7/34) hingga beliau masuk ke dalam masjid, (dan orang-orang pun bersegera ke sana 2/31), lalu kami masuk. Kemudian beliau shalat dua rakaat bersama kami hingga matahari menjadi jelas. Beliau menghadap kami, lalu bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan sesungguhnya keduanya (2/31) bukan gerhana karena meninggalnya seseorang. Akan tetapi, Allah ta'ala menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengannya. Oleh karena itu, apabila kamu melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah sehingga terbuka apa (gerhana) yang terjadi padamu.'" (Hal itu karena putra Nabi saw. yang bernama Ibrahim meninggal dunia, kemudian terjadi gerhana. Lalu, orang-orang berkomentar bahwa gerhana itu terjadi karena kematian Ibrahim itu. Hal ini lantas disanggah Rasulullah dengan sabda beliau itu.) 548. Abu Mas'ud berkata, "Nabi bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana karena meninggal (dan hidupnya 4/76) seseorang. Tetapi, keduanya adalah dua dari tanda-tanda dari kebesaran Allah. Apabila kamu melihatnya, maka berdirilah untuk mengerjakan shalat gerhana.'" 549. Ibnu Umar mengatakan bahwa ia memberi kabar dari Rasulullah, bahwa matahari dan bulan tidak gerhana karena meninggal dan hidupnya seseorang. Tetapi, keduanya adalah tanda-tanda kekuasan Allah. Apabila kamu melihatnya, maka shalat gerhanalah. 550. Al-Mughirah bin Syubah berkata, "Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah pada hari meninggalnya Ibrahim. Orang mengatakan, 'Matahari gerhana karena meninggalnya Ibrahim.' Lalu Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan (adalah dua dari tanda tanda kebesaran Allah 2/30). Keduanya tidak gerhana karena meninggal atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka shalatlah (gerhana) dan berdoalah kepada Allah sehingga ia menjadi cerah kembali.'" 
  • Memberikan Sedekah pada Waktu Terjadi Gerhana (Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah
  • Berseru dengan, Ashshalaatu jaami'ah[1] pada Waktu Shalat Gerhana 551. Abdullah bin Amr berkata, "Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah, maka diserukanlah, 'Ashshalaatu jaami'ah' 'shalatlah dengan berjamaah'. Catatan Kaki: [1] Yakni laksanakanlah shalat dengan berjamaah.
  • Sabda Nabi, Allah Menakut-nakuti Hamba-Hambanya dengan Gerhana Demikian dikatakan oleh Abu Musa dari Nabi saw.[6] Catatan Kaki: [6] Di-maushul-kan oleh Imam Bukhari pada BAB-14.
  • Memohon Perlindungan kepada Allah dari Siksa Kubur dalam Shalat Gerhana (Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang tertera pada nomor 552)  
  • Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas.[12] 555. Abu Musa berkata, "Terjadi gerhana matahari, lalu Nabi berdiri dengan terkejut, takut kiamat terjadi. Kemudian beliau datang ke masjid, lalu melakukan shalat dengan berdiri lama, ruku dan sujud yang pernah saya lihat yang beliau lakukan. Beliau bersabda, 'Tanda-tanda yang dikirimkan oleh Allah ini bukan karena meninggalnya seseorang. Tetapi, Allah menakut-nakuti hamba-Nya dengannya. Apabila kamu melihat sedikit saja darinya, maka berlindunglah dengan berzikir (ingat) kepada Allah, berdoa dan memohon ampunan-Nya.'" Catatan Kaki: [12] Di-maushul-kan oleh Imam Bukhari pada hadits nomor 554 di muka dengan lafal, "Maka ingatlah kepada Allah."  

Berdasarkan dari hadits diatas maka fenomena gerhana matahari itu menunjukkan :

  1. Bukan karena kematian atau hidupnya seseorang,
  2. Diperintahkannya untuk melalukan shalat sunnah berjamaah saat terjadinya gerhana,
  3. Dianjurkan memberi sedekah/Shadaqah,
  4. Memohon perlindungan (berdo'a) dari Allah Ta'ala akan siksa kubur ketika shalat gerhana,
  5. Berdzikir pada Allah Ta'ala,
  6. Allah menakut-nakuti hamba-Nya (sebagai pengingat bagi kita akan kebesaran dan azab Allah).

Semoga bermanfaat,

  اَللّٰهُ أَعْلَم

No comments:

Post a Comment